Seorang muslim yang cerdas adalah mereka yang tujuan utamanya hidup di Dunia adalah mempersiapkan seluruh perbekalannya menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Bukan untuk tertarik bahkan menjadikan prioritas hidupnya adalah kesenangan dunia semata. Salah satu ciri ahli dunia adalah selalu melihat kesuksesan secara dzhohir dengan mengesampingkan hakikat.

Sebagaimana telah dikisahkan kepada kita dalam Al-Quran Surah Al-Qashash ayat 79

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

"Maka keluarlah (Qorun) kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

Tetapi orang yang beriman dan berilmu, sangat memahami hakikat dari kemegahan yang dimiliki Qorun merupakan istidraj dan mereka mengakatan pada ayat selanjutnya (Al-Qashash ayat 80)

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar"

Dan ciri ahli dunia lainnya disebutkan pula dalam Surat Al-Fajr ayat 15-16

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ(15)
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ(16)

"Adapun manusia apabila RABBnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia (manusia) akan berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku'. Adapun bila RABBnya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia (manusia) berkata: 'Tuhanku menghinakanku'."

Sifat yang disebutkan dalam Surat Al-Fajr ayat 15-16 itu ada sifat orang-orang kafir, maka tidak sepantasnya seorang mukmin memiliki sifat demikian. Sebagaimana Al Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Sifat yang disebutkan dalam (Al Fajr ayat 15-16) adalah sifat orang kafir yang tidak beriman pada hari berbangkit. Sesungguhnya kemuliaan yang dianggap orang kafir adalah dilihat pada banyak atau sedikitnya harta. Sedangkan orang mukmin, kemuliaan menurutnya adalah dilihat pada ketaatan pada Allah dan bagaimana ia menggunakan segala nikmat untuk tujuan akhirat. Jika Allah memberi rizki baginya di dunia, ia pun memuji Allah dan bersyukur pada-Nya."

Intro diatas hanyalah sebagai pembuka mata kita bahwa kesenangan dunia dan seisinya hanyalah sementara, sedangkan seoarang mukmin hendaknya tidak terjebak dalam pemikiran orang-orang bodoh yang tidak peduli dengan Akhiratnya kecuali sangat sedikit.
Seorang muslim yang cerdar juga mempersiapkan bekal dengan cara beramal dengan sebuah amalan yang pahalanya terus mengalir walaupun ia telah wafat. Maka dia berusaha sekuat tenaga mengamalkan apa yang telah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sampaikan melalu Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya." (HR. Muslim)

Nah, disini yang kita akan bahas adalah yang poin no.2 yaitu Ilmu yang Bermanfaat.

Simak/Download audio kajian yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullah dengan tema PAHALA YANG TERUS MENGALIR.

Semoga bermanfaat.